Advertisement

Responsive Advertisement (Contact Me!!!)

SISI LAIN YOGYAKARTA: PEMUKIMAN PADAT KAMPUNG CODE (BAG. 1)

Sore itu, Jumat 22 September 2017, saya merencanakan ke suatu tempat yang unik di Yogyakarta. Sempat bingung mencari tempat yang beda di kota pelajar ini sebenarnya. Berbagai sumber saya gunakan, termasuk internet untuk mencari tempat-tempat yang memiliki suatu perbedaan atau bertolak belakang dari Yogyakarta. Saya suka hal-hal yang berbeda dan yang orang lain belum banyak yang tahu.


Dengan segala kegelisahaan itu, akhirnya saya menemukan sebuah tempat yang sebenarnya sering banget ku lewati. Tempat yang sering ku dengar kisahnya tapi ya saya pribadi selalu cuek aja. Barulah saat membaca sebuah artikel tentang tempat itu, saya merasa banyak sisi menariknya lokasi ini. Sejarah yang membuat saya sampai....... emmm.....  merinding mungkin. Karena jika melihat kebelakang, suatu yang mungkin sudah jarang terjadi untuk masa sekarang.

Gapura Kampung Code
Tempat itu adalah Kampung Code. Kampung Code yang ku kunjungi berada dibawah jembatan JL. Jendral Sudirman didekat MCD Sudirman. Sebelum saya melangkah ke lokasi, saya sempat mencari tahu terlebih dahulu mengenai akses ke kampung tersebut. Saya sempat bertanya ke teman saya yang asli Jogja, tapi sayang sekali, dia tidak tahu mengenai akses menuju kampung itu. Memang, kampung ini seolah terpinggirkan dan orang-orang yang main ke Jogja, bahkan orang Jogja aslipun, jarang ingin mengunjungi tempat ini. Tempat ini terkenal dengan kampung kumuh yang berada di wilayah Yogyakarta dimana rumah-rumah warga berjejeran mengikuti garis sungai. Dulunya wilayah Kampung Code merupakan target Pemerintah untuk digusur karena memang penataan Kampung Code terlihat amat sangat kumuh.

Pada Tahun 1984 Pemerintah Yogyakarta memiliki rencana untuk merelokasi perkampungan kumuh yang kita sebut sekarang Kampung Code. Wajar saja jika saat itu pemukiman kumuh itu akan direlokasi, bentuk tata kampung yang terlihat jorok dan kumuh mengurangi estetika Kota Yogyakarta saat itu. Rumah yang dibangun seadanya dan tidak memiliki rencana yang jelas membuat suasana kumuh semakin terasa saat itu. Berdasarkan dari berbagai sumber, saat itu terkadang saat hujan deras turun, tak jarang beberapa rumah hanyut terbawa arus sungai code yang membentang sepanjang perkampungan itu.

Akhirnya disuatu ketika saat Pemerintah ingin merealisasikan relokasi perkampungan kumuh yang berada di bantaran sungai code, munculkan arsitek kelas dunia yang tergerak hatinya untuk menata perkampungan itu. Berkat rasa kemanusiaan itulah beliau menata struktur bangunan hingga mental masyarakatnya. Arsitek itu adalah Y.B. Mangunwijaya atau yang populer dengan nama Romo Mangun. Beliau tergerak hatinya melihat warga-warga bantaran kali code yang semuanya merupakan golongan kaum miskin di Kota Yogyakarta. Ibaratnya mereka adalah kaum terpinggirkan di Kota Pendidikan ini.

Kejeliannya dan keahliannya dalam bidang arsitektur membuat pemukiman kumuh Kali Code diubah menjadi pemukiman yang sehat dan indah. Bangunan-bangunan dibangun menggunakan kayu dan anyaman bambu serta mengecatnya dengan motif-motif khas jawa sehingga enak dipandang. Rumah-rumah itu disewakan dengan harga Rp. 1000 perbulan. Rata-rata penyewanya adalah pemulung, pekerja serabutan, dan berbagai profesi kelas bawah lainnya.

Selain membangun perkampungan yang hebat, Romo Mangun juga membangun mental masyarakatnya. Mulai dari kesadaran akan kebersihan kali hingga menanamkan niat membaca masyarakanya. Semua orang tahu bahwa kecerdasan seseorang dimulai dengan menanamkan niat baca. Dari hasil perbincangan saya dengan pria tua di kampung code saya juga mendapatkan sebuah kesimpulan kalau Romo Mangun merupakan sosok yang tegas dan baik. Beliau rela hidup susah dengan masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan kampung ini. Romo Mangun berani keluar dari zona nyamannya untuk melakukan apa yang ia cintai, yakni pelayanan kemanusiaan.

Kerja keras Romo Mangun membuat dirinya mendapat penghargaan Aga Khan Untuk Arsitektur atau Aga Khan Award for Arcitecture. Berdasarkan situs Wikipedia penghargaan ini ditujukan untuk menandai dan menghargai konsep arsitektural yang berhasil mewadahi keperluan dan aspirasi masyarakat yang Islami dalam jalur rancangan kontemporer, pemukiman, pengembangan dan peningkatan lingkungan, restorasi, konservasi area, termasuk juga arsitektur lansekap dan pengembangan lingkungan. Penghargaan ini diumumkan setiap tiga tahun sekali untuk beberapa proyek sekaligus dan memberikan penghargaan keuangan, dengan total hadiah sampai US$ 500.000. Di antara berbagai penghargaan arsitektural, penghargaan ini memperkenalkan proyek, tim perancang dan semua pihak yang terlibat selain bangunan dan masyarakat sekitarnya.

Sekarang, Kampung Code sudah mengubah wajahnya yang dulu kusam menjadi cantik dan sehat. Dari hasil kunjungan saya yang pertama ke Kampung Code, ada beberapa hal yang menarik di kampung ini, yakni:


1. TEMPAT BELAJAR BAGI ANAK-ANAK
Kampung Code memiliki tempat bermain anak-anak
Tidak ragu saya menyebutkan kalau Yogyakarta merupakan tempat para pelajar. Di kampung yang padat akan penduduk ini masih ada sarana yang disediakan untuk kegiatan belajar anak-anak. Saya pribadi amat setuju dengan konsep seperti ini karena berdasarkan pengalaman pribadi semasa kecil, saya justru akan jauh lebih bosan belajar sendiri di rumah dibanding belajar bareng dengan teman-teman. Ya walaupun memang banyakan ngobrolnya sih hehehhe

Namun berdasarkan pantauan saya saat berkunjung, ada beberapa mahasiswa yang melakukan kegiatan bimbingan belajar untuk anak-anak. Nampaknya mahasiswa-mahasiswa ini rutin mendatangi kampung ini untuk melakukan bimbingan. Saya tidak sempat menayakan keberadaan mahasiswa itu, karena takt mengganggu kegiatan belajar mengajar. Tapi yang saya nilai tentang kejadian ini adalah mahasiswa Jogja sangat top dan masih mau untuk menggerakan kakinya dan hatinya untuk membantu masyarakat yang memang harus kita bantu. Harapanku pribadi kelak anak-anak di Kampung Kali Code ini memiliki kesempatan yang sama sepertiku untuk duduk di bangku kuliah. Tentu dengan pendidikan sera integritas, akan menjadikan pondasi kuat suatu negara.

Tidak kalah menarik ketika saya berbincang dengan seorang bapak-bapak yang saya sendiri lupa menanyakan namanya. Beliau menceritakan kalau ayunan, prosotan, dan benda sejenisnya merupakan sumbangan dari luar negeri. Saya menafsirkan yang dimaksud dengan luar negeri adalah sebuah yayasan amal yang berasal dari luar negeri. Saya lupa secara konkret negara mana yang dimaksud dengan bapak ini. Hal ini karena memang intonasi dari suara beliau kurang saya mengerti, tapi informasi ini membuatku sadar kalau Kampung ini cukup terkenal hingga manca negara.


2. SPACE 5x5 METER LAYAKNYA STADION BUNG KARNO
Keceriaan saat bermain bola
Kita gak bisa mengelak kalau negara kita sangat gila sengan sepakbola. Wajar saja jika virus gila sepakbola itu tertular sampai ke Kampung Code ini. Tidak memiliki lahan sebagai lapangan, maklum saja wilayah kampung ini berada mepet dengan sungai dan kontur seperti juarang membuat rasanya tidak mungkin kampung ini memiliki lapangan sepakbola, bahkan badminton pun tidak mungkin.

Oleh karena minimnya lahan untuk bermain bagi anak-anak, dengan keterpaksaan, anak-anak kampung ini menyalurkan hobinya dengan memanfaatkan sedikit space yang ada. Space itu kira-kira 5x5 meter dan sebenarnya itu adalah jalan setapak untuk warga juga. 

Mengambil bola di tepi sungai code
Yang aku suka dari anak-anak disini adalah merka sangat ceria dan semangat. Kadang sangking semangatnya saat main bola, mereka menendang dengan sekuat tenaga. Mungkin jika kita main di lapangan yang biasa itu hal yang lazim. Namun ini main di wilayah yang kampungnya berbatasan langsung dengan sungai. Jadi sudah makanan sehari-hari jika main bola, bola itu jatuh ke sungai. Mereka harus memungut bola itu ke bawah dan berharap jangan sampa bolanya hanyut terbawa aliran sungai code. 

Melihat mereka bermain bola saya jadi teringat para pemain sepak bola profesional seperti Eva Dimas, bahkan Cristiano Ronaldo. Mereka merupakan mega bintang sepakbola dan berasal dari desa yang kecil. Harapanku setidaknya, satu atau dua orang dari mereka ada yang bisa menjadi pemain sepak bola profesional. Jangan pernah takut bermimpi, jangan pernah takut berharap, lakukannlah, berdoalah, dan semuanya akan tercapai pada waktunya.


3.  WARNA WARNI KAMPUNG DAN GANG SEMPIT
Suasana Kampung Code
Setiap kampung atau tempat pasti memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri. Begitu pula dengan Kampung Code ini. Bangunan-bangunan disini sengaja dicat atau diberi warna yang mencolok dan warna warni untuk menghilangkan kesan kumuh. Itulah hebatnya Romo Mangun menyulap tempat yang dulu dianggap sebagai tempat sampah oleh warga menjadi tempat yang tak kalah cantik dengan Malioboro.

Selain warna-warni bangunan yang nampak indah jika kita melihat dari jembatan Gondolayu Jalan Jendral Sudirman, kermahan warganya juga membuat tambahan nilai plus bagi kampung ini. Sebenarnya saya sempat ragu untuk masuk ke kampung ini karena melihat dari kejauahan seorang pria tanpa mengenakan pakaian dan tubuhnya dipenuhi dengan tatto. Didalam pikiran saya kampung ini banyak preman. Namun setelah memberanikan diri untuk masuk dan bercengkramah dengan beberapa warga, ternyata penilaian otakku salah. Tidak ada kesan premanisme atau gengster di kampung ini. Yang ada hanya kedamaian dan ketenganan. Mereka malah sangat senang sekali apabila ada orang yang mengunjungi kampung mereka. Dan yang paling saya sukai adalah, warganya senang difoto hehehhe. 

Gang sempit Kampung Code
Jika kamu ingin mengunjungi kampung ini, jangan harap motormu bisa kau bawa masuk untuk menyusuri kampung ini. DI Kampung Code, gang yang ada hanya jalan setapak dan anak tangga. Keberadaan banyaknya anak tangga ini dapat dimaklumi karena memang posisi kampung ini miring seperti jurang ditepi sungai. Jadi kita tidak bisa membawa motor masuk mengelilingi kampung ini. Saya sendiri saat mendatangi kampung ini, memarkirkan kendaraan saya di parkiran MCD yang berada di seberang gapura Kampung Code. Setelah itu saya jalan sekitar 50 meter menuju gapuranya.

Jalanan yang sangat amat sempit inilah yang membuat setiap warga menjadi sangat akrab. DIsini saya melihat hampir setiap rumah (bahkan sepertinya semua) pintunya selalu terbuka. Jadi dari luar kta bisa melihat isi dalam rumah itu. Walaupun demikian, saya yakin dan percaya peristiwa perampokan atau kemalingan pasti jarang terjadi. Selain karena daerah ekonomi kelas bawah, rasa kekeluargaan setiap warga terlihat sangat kental dalam suasana di Kampung Code. Implikasinya, mereka saling menjaga satu sama lain. Tidak hanya menjaga dari tindak kriminalitas, tapi menjaga kerukunan antar warga ditengah perbedaan.


4. MUSEUM ROMO MANGUN
Museum Romo Mangun
Saat pertamakali saya mendaratkan kaki di wilayah paling bawah kampung ini, saya langsung dihampiri oleh seorang kakek-kakek yang saya yakin pasti warga Kampung Code. Beliau menceritakan mengenai perjuangan Romo Mangun membangun perkampungan yang dulu amat kumuh menjadi kampung yang layak huni. Saat saya tanya tahun masuknya Romo Mangun, beliau nampaknya sudah lupa. Maklum saja Kondisi beliau yang sudah tua.

Setelah menceritakan seluruh apa yang diberikan Romo Mangun untuk Kampung Code, beliau memberikan informasi kepada saya jika di kampung ini ada museum kecil yang diberi nama Museum Romo Mangun. Posisi museum ini berada diujung kampung di bagian paling bawah kampung atau tepatnya ditepi sungai code. Tak pikir panjang, kakiku langsung bergegas kesana untuk menjawab rasa penasaran yang terus menekan didalam kepalaku ini.

Anak kecil di depan Museum Romo Mangun
Kedatanganku di museum Romo Mangun disambut oleh seorang anak kecil yang sedang bermain sepeda disore hari. Dia amat sangat suka difoto. Sehabis difoto dia menghampiriku tanpa malu untuk melihat hasilnya di kameraku. Namun saat kutanya siapa namanya, dia tersenym malu dan langsung pergi menaiki sepedanya lagi. Lucu sekali anak itu.

Kelucucan anak itu membuat hatiku semakin senang pula. Melihat anak yang berada di sebuah kampung terpinggirkan senang adalah sesuatu yang sangat indah menurut saya. Tapi rasa senang itu sedikit pudar ketika melihat museum Romo Mangun ini. Saya agak sedih. Hmmm, mungkin jadi sangat sedih. Kondisinya, iya kondisinya. Kondisinya sudah tidak terawat. Debu dimana-mana seolah tempat ini sudah tidak ada lagi yang pernah menyenttuhnya. Isi dari museum ini hanyalah buku-buku dan ruangan baca buku. Lihatlah Romo Mangun membangun kampung ini. Tidak hanya fisik, tapi mental juga dibangun disini. 

Saya pribadi berharap, Pemerintah mau mengulurkan bantuan untuk memberikan suntikan dana perawatan museum ini. Tempat ini sangat menarik untuk dijadikan wisata. Bagi Unversitas-universitas pun seharusnya turut serta membangun kampung ini. Jadikan tempat ini menjadi tempat yang sangat ramah dengan anak serta memiliki kemauan belajar yang tinggi.


5. KEDATANGAN ROMO MANGUN MURNI UNTUK PEMBANGUNAN
Mushalah Kampung Code
Berbeda dengan dulu, zaman sekarang jika orang ingin membantu atau membangun sesuatu, yang lebih dulu ditanya bukan maksud dan tujuan, melainkan "apa agamamu?" atau "apa suku mu?". Banyak orang yang takut orang-orang disekitarnya dipaksa untuk mengakui apa yang diyakini oleh orang yang ingin melakukan sesuatu ditempatnya.

Romo Mangun adalah sosok tokoh gereja Katolik di Indonesia yang memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Itu telah dibuktikan dengan banyaknya pengabdian-pengabdian dia kepada masyarakat hingga ia dikenal tidak hanya sebagai Romo, melainkan sebagai arsitektur yang hebat di Indonesia. 

Kedatangannya tahun 1984 di Kampung Code murni merupakan rasa kemanusiaan. Tidak ada niatannya untuk melakukan "kristenisasi" atau "katolikisasi" kepada warga Kampung Code. Hal ini juga diakui oleh beberapa warga sekitar, terutama orang-orang yang sepuh di kampung ini. Selain itu bukti lainnya adalah berdirinya Mushalah yang merupakan tempat ibadah warga Muslim yang merupakan mayoritas di kampung ini. Mushalah itu terlihat sangat indah dan gagah dengan atapnya yang berwarna hujau selaras dengan pepohonan rindang diseberang kampung ini.

Walau demikian, jika kalian mengunjungi tempat ini, kalian akan menemui banyaknya mural-mural dengan tulisan-tulisan yang memiliki pesan perdamaian. Tidak peduli darimana asalmu, asalkan dirimu memawa perdamaian, ragamu akan diterima di kampung ini. Melihat suasana di Kampung Code, rasanya persatuan itu masih jelas secara tegas masih ada. 



__________________________________________



Itulah pandangan pertama saya saat baru datang ke Kampung Code. Rasanya tidak cukup hanya sekali atau duakali menyusuri kampung ini. Masih banyak hal yang ingin aku gali dikampung ini. Tentu akan saya kunjungi kembali kampung ini. Oleh karena itu, artikel ini masih Bagian pertama dalam penyusuran Pemukiman Padat Kampung Code. Tunggu ya bagian duanya :)

Posting Komentar

0 Komentar