Tidak terasa kita berada di
pengujung akhir 2018. Di periode akhir tahun ini izinkan saya sedikit
mengeluarkan sedikit penat dan ketakutan saya untuk berani melangkahkan harapan
ditahun 2019.
Seperti yang kita ketahui bersama,
ketakutan bangsa ini adalah sikap skeptis kita menjelang pesta demokrasi yang
hanya akan menghitung bulan. Keraguan itu muncul dengan minimnya kepercayaan
sipil terhadap penguasa.
Sikap pelaku politik yang oportunis
membuat kita para kaum pemilih semakin hilang arah. Kemudahan mereka yang
selalu berubah arah salah satu faktor saya pribadi susah untuk menilai. Susah menilai
apakah pilhannya untuk keuntungannya pribadi? Ataukah politik balas dendam? Atau
murni untuk menjadi pelayan negara?
Okelah saya akui politik bersifat
dinamis. Tidak ada sesuatu yang baku layaknya matematika di panggung politik. Tapi
apakah pergerakan menjegal lawan harus menggunakan sesuatu yang tak layak di
panggung politik? Saling hujat, saling melempar fitnah, atau bahkan menggunakan
kekerasan lewat massa? Pantaskah?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang
selalu terlintas dalam benak saya. Hingga ekstreamnya, saya memiliki pandangan
yang liar jika negara kita Indonesia ini sebenarnya tidak pantas menganut system
demokrasi. Lebih layak dan pantas kita kembali ke system Nusantara dimana kita
memiliki Raja yang memiliki kuasa yang sedikit otoriter. Tapi itu hanya
pemikiran liar ditengah ketidakpuasan saya tehadap kondisi politik sekarang saja.
Selebihnya, saya seorang yang demokrasi.
Kembali ke permasalahan 2019.
Saya ingin merangkum lima (5) dari akar resiko terjadinya gendering perang di
2019:
a.
Banyaknya
Berita HOAX
Saya adalah
seorang pengguna media social yang sangat aktif. Setidaknya saya tidak pernah
telat absen untuk menggunakan Instagram, Facebook, dan Twitter.
Dari ketiga
media tersebut, dari pengamatan saya yang paling berpotensi menjadi sarang
berita HOAX adalah Facebook. Mengapa?
Pertama, media
facebook merupakan media social yang sangat luas. Kamu dapat menyebarkan berita
dengan meng”klik” tombol share/bagikan di postingan orang lain. Dengan begitu,
orang yang memiliki visi dan misi seperti dirimu akan melakukan hal yang sama.
Inilah yang saya sebut efek domino. Kedua, penggunanya rata-rata baru mengenal
internet. Tidak bisa kita pungkiri memang pengguna facebook banyak dari
kalangan yang baru mengenal dengan dunia maya. Saya bisa amati dengan tulisan
status pengguna (rata-rata orang tua). Inilah sasaran empuk pelaku tindakan
penyebar berita HOAX.
b.
Kedewasaan
Masyarakat Indonesia
Yang dimaksud
dewasa disini bukan mengukur pada umur seseorang, tapi pada pola piker,
analisis, dan tingkah laku individu. Masyarakat kita yang masuk kategori
terbelakang, masih sangat rentan dengan sesuatu yang berbau perbedaan, entah
itu perbedaan pilihan politik hingga permasalahan ideologi dan kepercayaan.
Berdasarkan data
Polmark Research Center, 4,3 persen responden menyatakan pertemannya hancur
karena permasalahan pilihan politik dan 5,7 persen hubungan sosialnya berdampak
karena persoalan pilihan politik. Dari penelitian ini diambil sempel sebanyak
66.530 orang. (https://nasional.kompas.com/read/2018/08/29/23592811/potensi-konflik-akibat-pemilu-terancam-meningkat-karena-hoaks)
Angka itu jangan
dianggap remeh. Terlihat kecil memang. Belum lagi konflik kerusuhan pasca Pilkada.
Gambaran tersebut sudah menyiratkan bahwa masyarakat kita belum masih merangkak
dan belum siap dicekokin dengan demokrasi yang sehat.
c.
Minat
Baca Yang Kurang
Menurut Kepala
Perpustakaan Indonesia Muh. Syarif Bando, minat baca masyarakat Indonesia. Dari
61 negara yang menjadi sempel, Indonesia menempati urutan ke 60. (https://republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/18/02/20/p4gflk284-minat-baca-di-indonesia-disebut-masih-rendah)
Angka itu sangat
memprihatinkan mengingat buku menjadi sumber informasi dan ilmu bagi manusia. Dampaknya
dapat kita lihat sekarang. Betapa minimnya ilmu setiap individu kita. Ini bukan
cerita omong kosong. Jika kalian pengguna Facebook dan memiliki teman ribuan
seperti saya, betapa mualnya say ajika melihat timeline di Facebook saya. Orang
dengan ringannya mempercayai suatu peristiwa yang sebenarnya secara nalar saja
itu adalah suatu hal yang fiktif. INilah dampak jika kurang atau sama sekali
tidak berminat untuk membaca.
d.
Minim
Pendidikan Demokrasi di Lingkup Keluarga
Saya adalah
orang yang merasakan dampak dari Pendidikan politik didalam keluarga sendiri.
Saya bernostalgia ke tahun 2014 dimana saat itu merupakan tahun politik
pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Dalam keluarga saya diberi kebebasan
untuk memilih. Jujur saja, tahun itu saya pendukung Prabowo dan keluarga saya
dirumah semua Jokowi. Apakah saya dimusuhi? APakah saya dicampakan? APakah saya
dipaksa berpndah haluan? Jawabannya TIDAK.
Bahkan ayah saya
merupakan teman diskusi saya yang paling baik. Dengan kopi dan kadang bir
menjadi teman kami berbincang membicarakan visi dan misi setiap calon saat itu.
Sedikit perdebatan biasa, tetapi dari pembahasan itu timbul pengetahuan baru
dan timbul rasa saling menghargai di dalam keluarga.
Permasalahannya
di Indonesia, tidak semua keluarga sama dengan pemikiran keluarga saya. Masih
banyak yang nyatanya anak dan istrinya dipaksa untuk memilih figure tertentu
dengan alas an agama atau ideologi. Keluarga tidak diberi kesempatan untuk
belajar menentukan arah.
DAMPAK JIKA RESIKO
ITU TERJADI
Tentu saya harap tulisan diatas hanya menjadi dampak dan
tidak akan terjadi di tahun berikutnya. Segala penelitian kualitas sumber daya
manusia Indonesia harus menunjukan peningkatan untuk menjaga setiap pesta
demokrasi dikemudian hari.
Namun jika memang terjadi tentu akan muncul suatu politik
yang kurang sehat. Dampaknya akan banyak konflik kepentingan yang akan terjadi.
Semua bisa dibeli untuk memuluskan strategi politiknya. Tidak ada kata halal
dan haram, yang ada hanya “AKU INGIN MENANG!”
Pun demikian dengan basis pendukung golongan atau figure tertentu.
Potensi gesekan antar pendukung sangat amat tinggi. Potensi inilah yang memicu
banyaknya tindak criminal ditengah penyelengaraan demikrasi.
SOLUSI
Pemerintah dan masyarakat yang sadar aan pentingnya kebersamaan sebenarnya tidak tinggal diam. Sudah banyak grup atau komunitas dibuat untuk memantau pergerakan berita HOAX. Ini merupakan suatu solusi positif untuk menangkal berita HOAX.
Pemerintah dan masyarakat yang sadar aan pentingnya kebersamaan sebenarnya tidak tinggal diam. Sudah banyak grup atau komunitas dibuat untuk memantau pergerakan berita HOAX. Ini merupakan suatu solusi positif untuk menangkal berita HOAX.
Tentu untuk mencegah itu semua harus dibarengi dengan
perubahan mental sumber daya manusia kita. Dengan dimulai dari Pendidikan keluarga,
harapannya manusia ketika dilepas pada Pendidikan yang lebih social akan mampu
menerapkan ajaran tentang hal saling menghargai, baik dalam pilihan atau
pandangan.
Kemudian gerakan-gerakan perdamaian juga sangat penting.
Seminar kebangsaan hingga kopdar yang bertujuan untuk mempersatukan antar
lapisan masyarakat menjadi cara paling simple membuka wawasan masyarakat kita.
Dan terakhir adalah meningkatkan kemauan manusia kita untuk
membuka buku dan membaca. Ini bukan untuk menjadikan kita jadi kutu buku, tapi
merangsang otak kita semakin kritis dan saling menghargai melalui ilmu yang
kita dapat. Tidak harus membaca buku ilmiah berat, sebanrnya melalui koran pun
itu sudah sangat baik. Setidaknya minimal kita membaca koran setiap hari, itu
sudah cukup merangsang otak dan pola piker kita secara logis.

0 Komentar